RSS

Analisis Rasio CAMELS PT. BPD BALI

18 Apr


Laporan Keuangan Publikasi Triwulanan
Perhitungan Rasio Keuangan
PT. BPD BALI
JL. RAYA PUPUTAN NITI MANDALA, DENPASAR
Telp. (0361) 223301 – 8

per Desember 2009, 2008 dan 2007

(Dalam Persentase)

Pos-pos

12-2009

12-2008

12-2007

I. Permodalan
   1. CAR dengan memperhitungkan risiko kredit

13.9

15.18

18.99

   2. CAR dengan memperhitungkan risiko pasar

13.89

15.18

18.7

   3. Aktiva tetap terhadap modal

16.09

15.76

17.38

II.  Kualitas Aktiva
   1. Aktiva produktif bermasalah

.65

.67

1.16

   2. PPA Produktif terhadap Aktiva Produktif

1.59

1.58

1.64

   3. Pemenuhan PPA produktif

103.85

105.99

107.72

   4. Pemenuhan PPA non produktif

100

100

   5. NPL gross

.68

.76

1.48

   6. NPL net

.1

.04

.56

III. Rentabilitas
   1. ROA

4.24

4.32

4.33

   2. ROE

27.92

25.13

24.17

   3. NIM

9.19

9.76

9.47

   4. BOPO

66.8

72.46

71.03

IV. Likuiditas
   LDR

104.41

90.4

80.56

V.  Kepatuhan (Compliance)
   1.a. Persentase Pelanggaran BMPK
      a.1. Pihak terkait
      a.2. Pihak tidak terkait
   1.b. Persentase Pelampauan BMPK
      b.1. Pihak terkait
      b.2. Pihak tidak terkait
   2. GWM Rupiah

5.42

6.04

9.12

   3. PDN

.29

.06

.04

Keterangan Bank Pelapor:
Catatan : 1. Laporan Keuangan PT. Bank Pembangunan Daerah Bali per : 31 Desember 2009 telah diaudit oleh Kantor Akuntan Publik Johan Molanda Astika & Rekan Nomor : 36A/III/LAI/DPS.1/2010 tanggal 2 Maret 2010 dengan pendapat Wajar Tanpa Pengecualian. 2. Dipublikasikan untuk memenuhi Surat Edaran Bank Indonesia Nomor:7/10/DPNP tanggal 31 Maret 2005 dan Surat Edaran Bank Indonesia No.: 8/3/DPNP tanggal 30 Januari 2006. 3. Susunan Direksi Berdasarkan Akte Berita Acara RUPS LB No : 2 Tanggal 8 Januari 2010 dan Surat Bank Indonesia No : 12/13/DS/Dpr Tanggal 25 Januari 2010. 3. Kurs USD 1 = Rp 9.395 per 31 Desember 2009 Kurs USD 1 = Rp 10.900 per 31 Desember 2008
Sumber data :   Berdasarkan Laporan Keuangan Publikasi Bank yang telah dipublikasi di media masa dan disampaikan kepada Bank Indonesia melalui media disket atau hasil cetakan/guntingan koran atau melalui e-mail.
Keterangan :   1. Format Laporan ini sesuai dengan format dalam Surat Edaran Bank Indonesia No.7/10/DPNP tanggal 31 Maret 2005 Tentang Perubahan Atas Surat Edaran Bank Indonesia Nomor 3/30/DPNP Tanggal 14 Desember 2001 perihal Laporan Keuangan Publikasi Triwulanan dan Bulanan Bank Umum serta Laporan Tertentu yang Disampaikan kepada Bank Indonesia.

Analisis :

Variabel independen yang digunakan dalam penelitian ini adalah rasio keuangan CAMEL yaitu:

a. CAR (Capital Adequancy Ratio). CAR adalah rasio yang memperlihatkan seberapa besar jumlah seluruh aktiva bank yang mengandung resiko (kredit, penyertaan, surat berharga, tagihan pada bank lain) ikut dibiayai dari modal sendiri disamping memperoleh dana-dana dari sumber-sumber diluar bank.

b. Rasio Aktiva Tetap terhadap Modal (ATTM). Rasio ini mengukur kemampuan manajemen bank dalam menentukan besarnya aktiva tetap dan inventaris yang dimiliki bank yang bersangkutan terhadap modal.

c. Rasio Aktiva Produktif Bermasalah (APB). Rasio ini untuk menunjukkan kemampuan manajemen bank dalam mengelola aktiva produktif bermasalah terhadap total aktiva produktif. Semakin tinggi rasio ini maka semakin buruk kualitas aktiva produktif yang menyebabkan PPAP yang tersedia semakin besar maka kemungkinan suatu bank dalam kondisi bermasalah semakin besar. Aktiva produktif bermasalah adalah aktiva produtif dengan kualitas kurang lancar, diragukan dan macet.

d. NPL (Non Performing Loan). Rasio ini menunjukan bahwa kemampuan manajemen bank dalam mengelola kredit bermasalah yang diberikan oleh bank. Sehingga semakin tinggi rasio ini maka akan semakin semakin buruk kualitas kredit bank yang menyebabkan jumlah kredit bermasalah semakin besar maka kemungkinan suatu bank dalam kondisi bermasalah semakin besar.

e. Rasio PPAPAP (Penyisihan Penghapusan Aktiva Produktif terhadap Aktiva Produktif). Rasio PPAP menunjukkan kemampuan manajemen bank dalam menjaga kualitas aktiva produktif sehingga jumlah PPAP dapat dikelola dengan baik. Semakin besar PPAP maka semakin buruk aktiva produktif bank yang bersangkutan sehingga kemungkinan suatu bank dalam kondisi bermasalah

f. Rasio pemenuhan PPAP. Rasio ini menunjukkan kemampuan manajemen bank dalam menentukan besarnya PPAP yang telah dibentuk terhadap PPAP yang wajib dibentuk. Semakin besar rasio ini maka kemungkinan bank dalam kondisi bermasalah semakin kecil karena semakin besar PPAP yang telah dibentuk dari PPAP yang wajib dibentuk.

g. ROA (Return on Assets). Rasio ini digunakan untuk mengukur kemampuan manajemen bank dalam memperoleh keuntungan (laba sebelum pajak) yang dihasilkan dari rata-rata total aset bank yang bersangkutan. Semakin besar ROA, semakin besar pula tingkat keuntungan yang dicapai bank sehingga kemungkinan suatu bank dalam kondisi bermasalah semakin kecil. Laba sebelum pajak adalah laba bersih dari kegiatan operasional sebelum pajak. Sedangkan rata-rata total asset adalah rata-rata volume usaha atau aktiva.

h. ROE (Return on Equity). Rasio ini digunakan untuk mengukur kinerja manajemen bank dalam mengelolah modal yang tersedia untuk menghasilkan laba setelah pajak. Semakin besar ROE, semakin besar pula tingkat keuntungan yang dicapai bank sehingga kemungkinan suatu bank dalam kondisi bermasalah semakin kecil.

i. NIM (Net Interest Margin). Rasio ini digunakan untuk mengukur kemampuan manajemen bank dalam mengelola aktiva produktifnya untuk menghasilkan pendapatan bunga bersih. Pendapatan bunga bersih diperoleh dari pendapatan bunga dikurangi beban bunga. Semakin besar rasio ini maka meningkatnya pendapatan bunga atas aktiva produktif yang dikelola bank sehingga kemungkinan suatu bank dalam kondisi bermasalah semakin kecil.

j. BOPO (Rasio Biaya Operasional terhadap Pendapatan Operasional). Rasio yang sering disebut rasio efisiensi ini digunakan untuk mengukur kemampuan manajemen bank dalam mengendalikan biaya operasional terhadap pendapatan operasional. Semakin kecil rasio ini berarti semakin efisien biaya operasional yang dikeluarkan bank yang bersangkutan sehingga kemungkinan suatu bank dalam kondisi bermasalah semakin kecil.

k. LDR (Loan to Deposit Ratio). Rasio ini digunakan untuk menilai likuiditas suatu bank yang dengan cara membagi jumlah kredit yang diberikan oleh bank terhadap dana pihak ketiga. Semakin tinggi rasio ini, semakin rendahnya kemampuan likuiditas bank yang bersangkutan sehingga kemungkinan suatu bank dalam kondisi bermasalah akan semakin besar.

UJI NORMALITAS DATA (ONE SAMPLE KOLMOGOROF SMIRNOV TEST)

Rasio

 Signifikansi

Keterangan

CAR (Bank Tidak Bermasalah)

0.216

Normal

CAR (Bank Bermasalah)

0.098

Normal

ATTM(Bank Tidak Bermasalah)

0.293

Normal

ATTM (Bank Bermasalah)

0.756

Normal

APB (Bank Tidak Bermasalah)

0.068

Normal

APB (Bank Bermasalah)

0.661

Normal

NPL (Bank Tidak Bermasalah)

0.002

Tidak Normal

NPL (Bank Bermasalah)

0.662

Normal

PPAPAP (Bank Tidak Bermasalah)

0.059

Normal

PPAPAP (Bank Bermasalah)

0.641

Normal

P_ PPAP (Bank Tidak Bermasalah)

0

Tidak Normal

P_ PPAP (Bank Bermasalah)

0.199

Normal

ROA (Bank Tidak Bermasalah)

0.074

Normal

ROA (Bank Bermasalah)

0.016

Tidak Normal

ROE (Bank Tidak Bermasalah)

0.371

Normal

ROE (Bank Bermasalah)

0.009

Tidak Normal

NIM (Bank Tidak Bermasalah)

0.051

Normal

NIM (Bank Bermasalah)

932

Normal

BOPO (Bank Tidak Bermasalah)

0.485

Normal

BOPO (Bank Bermasalah)

0.759

Normal

LDR (Bank Tidak Bermasalah)

0.587

Normal

LDR (Bank Bermasalah)

0.941

Normal

Sumber Data: Output SPSS.
  • Berdasarkan tabel uji normalitas di atas maka PT. BPD BALI memiliki laporan keuangan Triwulanan (2007-2009) yang sehat karena sudah sesuai dengan kriteria/syarat uji normalitas.
  • CAR pada tahun 2007-2009 memiliki nilai > 0,216, yang merupakan syarat normal yang harus dipenuhi.
  • Aktiva tetap terhadap modal (ATTM) pada laporan keuangan tersebut juga tidak bermasalah karena > 0,293.
  • Secara keseluruhan semua variabel Camels pada laporan keuangan tersebut sudah sesuai dengan criteria/syarat uji normalitas karena nilai signifikannya diatas normal.
  • Dengan kata lain PT. BPD BALI memilliki nilai kesehatan Bank yang baik.
  • Sedangkan untuk anlisis kinerja rata – rata selama 3 tahun adalah BPD BALI memiliki manajemen keuangan yang baik dan cukup terkontrol. Karena selama 3 tahun tersebut bank ini rata – rata mengalami peningkatan di setiap variabel camelsnya.
 
1 Komentar

Ditulis oleh pada April 18, 2011 in Analisis Laporan Keuangan (ALK)

 

One response to “Analisis Rasio CAMELS PT. BPD BALI

  1. juan

    April 27, 2011 at 1:58 pm

    variabel “s” nya,kalo boleh tau ngitungnya pake rasio apaan ya..
    makasih..

     

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: