RSS

Analisis Rasio CAMELS PT. BPD BALI


Laporan Keuangan Publikasi Triwulanan
Perhitungan Rasio Keuangan
PT. BPD BALI
JL. RAYA PUPUTAN NITI MANDALA, DENPASAR
Telp. (0361) 223301 – 8

per Desember 2009, 2008 dan 2007

(Dalam Persentase)

Pos-pos

12-2009

12-2008

12-2007

I. Permodalan
   1. CAR dengan memperhitungkan risiko kredit

13.9

15.18

18.99

   2. CAR dengan memperhitungkan risiko pasar

13.89

15.18

18.7

   3. Aktiva tetap terhadap modal

16.09

15.76

17.38

II.  Kualitas Aktiva
   1. Aktiva produktif bermasalah

.65

.67

1.16

   2. PPA Produktif terhadap Aktiva Produktif

1.59

1.58

1.64

   3. Pemenuhan PPA produktif

103.85

105.99

107.72

   4. Pemenuhan PPA non produktif

100

100

   5. NPL gross

.68

.76

1.48

   6. NPL net

.1

.04

.56

III. Rentabilitas
   1. ROA

4.24

4.32

4.33

   2. ROE

27.92

25.13

24.17

   3. NIM

9.19

9.76

9.47

   4. BOPO

66.8

72.46

71.03

IV. Likuiditas
   LDR

104.41

90.4

80.56

V.  Kepatuhan (Compliance)
   1.a. Persentase Pelanggaran BMPK
      a.1. Pihak terkait
      a.2. Pihak tidak terkait
   1.b. Persentase Pelampauan BMPK
      b.1. Pihak terkait
      b.2. Pihak tidak terkait
   2. GWM Rupiah

5.42

6.04

9.12

   3. PDN

.29

.06

.04

Keterangan Bank Pelapor:
Catatan : 1. Laporan Keuangan PT. Bank Pembangunan Daerah Bali per : 31 Desember 2009 telah diaudit oleh Kantor Akuntan Publik Johan Molanda Astika & Rekan Nomor : 36A/III/LAI/DPS.1/2010 tanggal 2 Maret 2010 dengan pendapat Wajar Tanpa Pengecualian. 2. Dipublikasikan untuk memenuhi Surat Edaran Bank Indonesia Nomor:7/10/DPNP tanggal 31 Maret 2005 dan Surat Edaran Bank Indonesia No.: 8/3/DPNP tanggal 30 Januari 2006. 3. Susunan Direksi Berdasarkan Akte Berita Acara RUPS LB No : 2 Tanggal 8 Januari 2010 dan Surat Bank Indonesia No : 12/13/DS/Dpr Tanggal 25 Januari 2010. 3. Kurs USD 1 = Rp 9.395 per 31 Desember 2009 Kurs USD 1 = Rp 10.900 per 31 Desember 2008
Sumber data :   Berdasarkan Laporan Keuangan Publikasi Bank yang telah dipublikasi di media masa dan disampaikan kepada Bank Indonesia melalui media disket atau hasil cetakan/guntingan koran atau melalui e-mail.
Keterangan :   1. Format Laporan ini sesuai dengan format dalam Surat Edaran Bank Indonesia No.7/10/DPNP tanggal 31 Maret 2005 Tentang Perubahan Atas Surat Edaran Bank Indonesia Nomor 3/30/DPNP Tanggal 14 Desember 2001 perihal Laporan Keuangan Publikasi Triwulanan dan Bulanan Bank Umum serta Laporan Tertentu yang Disampaikan kepada Bank Indonesia.

Analisis :

Variabel independen yang digunakan dalam penelitian ini adalah rasio keuangan CAMEL yaitu:

a. CAR (Capital Adequancy Ratio). CAR adalah rasio yang memperlihatkan seberapa besar jumlah seluruh aktiva bank yang mengandung resiko (kredit, penyertaan, surat berharga, tagihan pada bank lain) ikut dibiayai dari modal sendiri disamping memperoleh dana-dana dari sumber-sumber diluar bank.

b. Rasio Aktiva Tetap terhadap Modal (ATTM). Rasio ini mengukur kemampuan manajemen bank dalam menentukan besarnya aktiva tetap dan inventaris yang dimiliki bank yang bersangkutan terhadap modal.

c. Rasio Aktiva Produktif Bermasalah (APB). Rasio ini untuk menunjukkan kemampuan manajemen bank dalam mengelola aktiva produktif bermasalah terhadap total aktiva produktif. Semakin tinggi rasio ini maka semakin buruk kualitas aktiva produktif yang menyebabkan PPAP yang tersedia semakin besar maka kemungkinan suatu bank dalam kondisi bermasalah semakin besar. Aktiva produktif bermasalah adalah aktiva produtif dengan kualitas kurang lancar, diragukan dan macet.

d. NPL (Non Performing Loan). Rasio ini menunjukan bahwa kemampuan manajemen bank dalam mengelola kredit bermasalah yang diberikan oleh bank. Sehingga semakin tinggi rasio ini maka akan semakin semakin buruk kualitas kredit bank yang menyebabkan jumlah kredit bermasalah semakin besar maka kemungkinan suatu bank dalam kondisi bermasalah semakin besar.

e. Rasio PPAPAP (Penyisihan Penghapusan Aktiva Produktif terhadap Aktiva Produktif). Rasio PPAP menunjukkan kemampuan manajemen bank dalam menjaga kualitas aktiva produktif sehingga jumlah PPAP dapat dikelola dengan baik. Semakin besar PPAP maka semakin buruk aktiva produktif bank yang bersangkutan sehingga kemungkinan suatu bank dalam kondisi bermasalah

f. Rasio pemenuhan PPAP. Rasio ini menunjukkan kemampuan manajemen bank dalam menentukan besarnya PPAP yang telah dibentuk terhadap PPAP yang wajib dibentuk. Semakin besar rasio ini maka kemungkinan bank dalam kondisi bermasalah semakin kecil karena semakin besar PPAP yang telah dibentuk dari PPAP yang wajib dibentuk.

g. ROA (Return on Assets). Rasio ini digunakan untuk mengukur kemampuan manajemen bank dalam memperoleh keuntungan (laba sebelum pajak) yang dihasilkan dari rata-rata total aset bank yang bersangkutan. Semakin besar ROA, semakin besar pula tingkat keuntungan yang dicapai bank sehingga kemungkinan suatu bank dalam kondisi bermasalah semakin kecil. Laba sebelum pajak adalah laba bersih dari kegiatan operasional sebelum pajak. Sedangkan rata-rata total asset adalah rata-rata volume usaha atau aktiva.

h. ROE (Return on Equity). Rasio ini digunakan untuk mengukur kinerja manajemen bank dalam mengelolah modal yang tersedia untuk menghasilkan laba setelah pajak. Semakin besar ROE, semakin besar pula tingkat keuntungan yang dicapai bank sehingga kemungkinan suatu bank dalam kondisi bermasalah semakin kecil.

i. NIM (Net Interest Margin). Rasio ini digunakan untuk mengukur kemampuan manajemen bank dalam mengelola aktiva produktifnya untuk menghasilkan pendapatan bunga bersih. Pendapatan bunga bersih diperoleh dari pendapatan bunga dikurangi beban bunga. Semakin besar rasio ini maka meningkatnya pendapatan bunga atas aktiva produktif yang dikelola bank sehingga kemungkinan suatu bank dalam kondisi bermasalah semakin kecil.

j. BOPO (Rasio Biaya Operasional terhadap Pendapatan Operasional). Rasio yang sering disebut rasio efisiensi ini digunakan untuk mengukur kemampuan manajemen bank dalam mengendalikan biaya operasional terhadap pendapatan operasional. Semakin kecil rasio ini berarti semakin efisien biaya operasional yang dikeluarkan bank yang bersangkutan sehingga kemungkinan suatu bank dalam kondisi bermasalah semakin kecil.

k. LDR (Loan to Deposit Ratio). Rasio ini digunakan untuk menilai likuiditas suatu bank yang dengan cara membagi jumlah kredit yang diberikan oleh bank terhadap dana pihak ketiga. Semakin tinggi rasio ini, semakin rendahnya kemampuan likuiditas bank yang bersangkutan sehingga kemungkinan suatu bank dalam kondisi bermasalah akan semakin besar.

UJI NORMALITAS DATA (ONE SAMPLE KOLMOGOROF SMIRNOV TEST)

Rasio

 Signifikansi

Keterangan

CAR (Bank Tidak Bermasalah)

0.216

Normal

CAR (Bank Bermasalah)

0.098

Normal

ATTM(Bank Tidak Bermasalah)

0.293

Normal

ATTM (Bank Bermasalah)

0.756

Normal

APB (Bank Tidak Bermasalah)

0.068

Normal

APB (Bank Bermasalah)

0.661

Normal

NPL (Bank Tidak Bermasalah)

0.002

Tidak Normal

NPL (Bank Bermasalah)

0.662

Normal

PPAPAP (Bank Tidak Bermasalah)

0.059

Normal

PPAPAP (Bank Bermasalah)

0.641

Normal

P_ PPAP (Bank Tidak Bermasalah)

0

Tidak Normal

P_ PPAP (Bank Bermasalah)

0.199

Normal

ROA (Bank Tidak Bermasalah)

0.074

Normal

ROA (Bank Bermasalah)

0.016

Tidak Normal

ROE (Bank Tidak Bermasalah)

0.371

Normal

ROE (Bank Bermasalah)

0.009

Tidak Normal

NIM (Bank Tidak Bermasalah)

0.051

Normal

NIM (Bank Bermasalah)

932

Normal

BOPO (Bank Tidak Bermasalah)

0.485

Normal

BOPO (Bank Bermasalah)

0.759

Normal

LDR (Bank Tidak Bermasalah)

0.587

Normal

LDR (Bank Bermasalah)

0.941

Normal

Sumber Data: Output SPSS.
  • Berdasarkan tabel uji normalitas di atas maka PT. BPD BALI memiliki laporan keuangan Triwulanan (2007-2009) yang sehat karena sudah sesuai dengan kriteria/syarat uji normalitas.
  • CAR pada tahun 2007-2009 memiliki nilai > 0,216, yang merupakan syarat normal yang harus dipenuhi.
  • Aktiva tetap terhadap modal (ATTM) pada laporan keuangan tersebut juga tidak bermasalah karena > 0,293.
  • Secara keseluruhan semua variabel Camels pada laporan keuangan tersebut sudah sesuai dengan criteria/syarat uji normalitas karena nilai signifikannya diatas normal.
  • Dengan kata lain PT. BPD BALI memilliki nilai kesehatan Bank yang baik.
  • Sedangkan untuk anlisis kinerja rata – rata selama 3 tahun adalah BPD BALI memiliki manajemen keuangan yang baik dan cukup terkontrol. Karena selama 3 tahun tersebut bank ini rata – rata mengalami peningkatan di setiap variabel camelsnya.
 
1 Komentar

Ditulis oleh pada April 18, 2011 in Analisis Laporan Keuangan (ALK)

 

Operating Lease bagi Lessor dan OPEB

Pertanyaan No. 3.14

Bila sebuah sewa dianggap sebagai sewa operasi bagi lessee maupun lessor, jelaskan jumlah yang tertera dalam neraca lessee ataupun lessor terkait dengan kewajiban sewa dan aset sewa.

Jawaban :

Lessee atau lessor mencatat MLP (Minimum Lease Payment) sebagai beban (pendapatan sewa) saat terjadinya, dan tidak ada aset/kewajiban yang diakui dalam neraca.

Lessee sering mengatur sebuah sewa agar dapat dicatat sebagai operating lease. Dengan cara tersebut, lessee melakukan pendanaan diluar neraca (off-balance sheet financing). Yang mengacu pada kenyataan bahwa dalam sewa operasi, aset sewa/kewajiban yang terkait tidak diakui dalam neraca.

a. Operating lease menyajikan kewajiban lebih rendah dengan tidak menyajikan pendanaan sewa guna usaha dalam neraca..
b. Operating lease menyajikan aktiva lebih rendah dari seharusnya.
c. Operating lease menunda pengakuan beban dibandingkan dengan capital lease.
d. Operating lease menyajikan kewajiban lancar lebih rendah dari seharusnya.
e. Operating lease memasukkan bunga dalam beban sewa.

Pertanyaan No. 3.33

Apakah kewajiban OPEB dan bagaimana menentukannya?

Jawaban :

Kewajiban pemberi kerja dalam SFAS 106 disebut akumulasi kewajiban imbalan pascapensiun (accumulated postretirement benefit obligation-APBO). Total biaya ditentukan secara aktuaria untuk menyediakan imbalan di masa depan, kewajiban imbalan pascapensiun yang diharapkan (expected postretirement benefit obligation-EPBO), diakui secara bertahap selama masa jasa pegawai yang diharapkan.

Imbalan pascapensiun selain pensiun atau imbalan karyawan pascapensiun lainnya (other postretirement employee benefit-OPEB) merupakan imbalan yang diberikan oleh pemberi kerja kepada pensiunan dan anggota keluarganya. Contohnya adalah asuransi jiwa, perawatan kesehatan, bantuan perumahan, serta jasa hokum dan pajak.
Hanya sedikit perusahaan yang mendanai kewajiban OPEB tersebut. Perbedaan besar lainnya adalah bentuk imbalan pascapensiun yang sering kali berbentuk jasa yang dijanjikan seperti imbalan perawatan kesehatan, bukan kompensasi dalam bentuk uang.

1. Akumulasi kewajiban imbalan (accumulated benefit obligation-ABO) merupakan nilai sekarang aktuaria kewajiban imbalan pensiun di masa depan kepada pekerja pada saat pensiun berdasarkan kompensasi saat ini.Nilai sekarang sama dengan kewajiban kini pemberi kerja jika program pensiun dihentikan.

2. Ciri-ciri Akuntansi OPEB
• Pelaporan biaya bersih (net cost reporting). (1) nilai sekarang biaya akrual untuk kompensasi yang dijanjikan atas jasa pegawai; (2) akrual biaya bunga sampai saat pembayaran imbalan; dan (3) pengembalian investasi dalam aktiva program –pengembalian tersebut tidak mengurangi biaya sebagian besar program karena sebagian besar tidak didanai.
• Pengakuan yang ditunda (delayed recognition). Perubahan-perubahan tertentu dalam OPEB. Hal ini dilakukan melalui proses penangguhan dan amortisasi yang bertujuan menghindarkan biaya kini dari votalitas yang berlebihan.
• Saling hapus (offsetting). Aktiva program yang dibatasi untuk pembayaran OPEB saling hapus dengan akumulasi kewajiban imbalan pascapensiun untuk menentukan nilai yang diakui dalam neraca.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Maret 19, 2011 in Analisis Laporan Keuangan (ALK)

 

Analisis Perubahan Jumlah Absolut dengan Perubahan Persentase

Pertanyaan no 1.19

Bandingkan antara “Perubahan jumlah absolut” dengan “Perubahan Persentase” sebagai indikator perubahan. Manakah yang lebih baik untuk dianalisis?

Jawaban :

Perbandingan :

  • Persentase dapat dihitung dengan membagi jumlah pertambahan atau pengurangan dari setiap pos dengan jumlah yang terdapat pada laporan tahun sebelumnya atau tahun yang dijadikan pembanding (tahun dasar).
  • Apabila data tahun pembadingnya kosong (nol) atau negatif, maka perubahan dalam persentase tidak dapat ditentukan, begitu pula kalau data yang diperbandingkan sama-sama negatif, maka persentase perubahannya tidak dapat ditentukan.
  • Kalau data pembandingnya ada nilainya sedang data yang diperbandingkan kosong (nol), maka perubahan dalam persentase masih dapat ditentukan.
Sedangkan analisis jumlah absolut :
Analisis ini merubah semua angka dalam laporan keuangan pada tahun dasar menjadi 100. Pemilihan tahun dasar adalah tahun yang dipandang sebagai tahun normal, bukan selalu tahun yang paling awal. Demikian analisis ini dilakukan untuk melihat perkembangan dari waktu ke waktu.

Untuk analisis sebaiknya dengan perubahan persentase karena persentase dianggap memiliki angka yang lebih signifikan dibanding dengan jumlah absolut.

Karena kalau sudah lebih dari tahun, maka lebih baik menggunakan angka indeks, dan semua dapa laporan keuangan yang dianalisa dihubungkan dengan angka indeks tersebut yang dinyatakan dalam persentase. Analisa ini bertujuan untuk mengetahui kecenderungan atau arah (trend) dari posisi keuangan perusahaan.

Nama : Lamtiur Maharani

Kelas : 3DA02

Npm : 40208724

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Maret 19, 2011 in Analisis Laporan Keuangan (ALK)

 

studentsite,,oohh studentsiteee….

Selalu kecewa setiap mau buka studentsite dihari libur.. entah itu mau upload tugas,,lihat nilai,,jdwal,, atau iseng liat2.

pasti kalau hr sbtu atau minggu susah banget buat dibuka/login..bingung jg sihh,,knp yaa??

bahkan hari2 biasa aja kadang susah buat masuk ke studentsite gunadarma,,

maaf,,maaf aja yaa pak dosen atau bu dosen tp gmn ini,,katanya berbasis teknologi???? harusnya kapan aja studentsite itu bisa digunakan,,harus slalu online & update…. >,<

mau dikemanakan slogan “world class university” nya???.

 

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Maret 5, 2011 in Uncategorized

 

Bank dan Cadangan Tersembunyi

Latihan 2-14

Pada beberapa dekade lalu, beberapa bank besar “Pusat uang” Citicorp mencatat tambahan besar pada cadangan kerugian pinjaman mereka. Misalnya, Citicorp melakukan pencatatan sekaligus penambahan yang besar pada cadangan kerugian pinjaman yang hampir sebesar $ 3 milyar. Tambahan cadangan kerugian pinjaman ini menyebabkan kerugian bersih yang besar untukl bank tersebut. Meskipun sebagian besar analisis setuju bahwa tambahan cadangan memang diperlukan, banyak yang berspekulasi bahwa bank mencatat tambahan cadangan melebihi yang diperlukan.

Diminta:

a. mengapa bank memilih untuk mencatat cadangan kerugian melebihi kebutuhan?

b. jelaskan bagaimana cadangan kerugian pinjaman yang terlalu besar dapat digunakan untuk manajemen laba?

Jawaban:

a. (i) menghindari laba bersih negatif,

(ii) menghindari penurunan berpendapatan dibandingkan dengan tahun sebelumnya,
iii) menghindari kekurangan laba bersih dibandingkan dengan kelompok sebaya
(iv) mengurangi variabilitas laba bersih ‘bank dari waktu ke waktu.  Selain itu, mereka dikelola lebih intensif jika tingkat mereka cukup besar untuk menutup kesenjangan dengan target yang sesuai.

b. Terlalu besarnya jumlah yang dicadangkan itu dimaksudkan agar proyeksi laba bisa dikontrol oleh pihak manajemen, cadangan ini timbul akibat piutang tak tertagih sehingga menimbulkan kerugian, sedangkan piutang dapat terjadi karena adanya transaksi penjualan. Piutang yang besar menandakan bahwa penjualan yang dilakukan perusahaan sangat baik, sebaliknya kerugian piutang terlalu tinggi dapat diartikan bahwa kebijakan kredit perusahaan terlalu longgar. Sehingga dengan adanya kejadian di masa lalu dapat mempengaruhi laba di masa depan dan mempengaruhi manajemen perusahaan.

 

Oleh : Lamtiur Maharani

Kelas : 3 DA 02

Npm : 40208724

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Maret 5, 2011 in Analisis Laporan Keuangan (ALK)

 

Latihan Tentang Penilaian Utang(Bunga Tahunan)

Latihan no 1.13 :

Hitung nilai sekarang masing-masing obligasi dibawah ini:

a.       Dihargai pada akhir tahun ke-5 obligasi dengan nilai nominal $100 berjangka waktu 10 tahun. Tingkat bunga kontrak (kupon) 10% per tahun (terutang tiap akhir tahun) dengan tingkat bunga efektif 14% per tahun.

b.      Dihargai pada awal tahun ke-10, obligasi dengan nilai nominal $1000 berjangka waktu 14 tahun. Tingkat bunga kontrak (kupon) 8% per tahun (terutang tiap akhir tahun) dengan tingkat bunga efektif 6% per tahun.

c.       Apakah jawaban untuk pertanyaan (b), bila bunga terutang tengah tahunan dalam jumlah yang sama.

Jawaban:

a.       Obligasi akan jatuh tempo pada 31 Desember Tahun 10, yang berarti sisa waktu jatuh tempo selama 5 tahun (31 Des tahun ke-5 – 31 Des tahun 10).

Setiap pembayaran bunga akhir tahun obligasi = 10%*$100 = $10

Pembayaran pokok pada akhir Tahun 10 = $100

Maka nilai obligasi ini pada tanggal 31 Des Tahun 10:

Bt = It+1/(1+r) + It+2/(1+r)2 + It+3/(1+r)3 + … + It+n/(1+r)n +  F/(1+r)n

Bt = $8/(1+0.14) + $8/(1+0.14)2 + $8/ (1+0.14)3 + $8/(1+0.14)4 + $8/(1+0.14)5 + $100/(1+0.14)5


=          $7,017 + $6,155 + $5,399 + $4,736 + $4,154 + $51,936

=          $ 79,397

b.      Obligasi akan jatuh tempo pada 1 Januari Tahun 14, yang berarti sisa waktu jatuh tempo selama 5 tahun (1 Jan tahun ke-10 – 1 Jan tahun 14).

Setiap pembayaran bunga akhir tahun obligasi = 8%*$1000 = $80

Pembayaran pokok pada akhir Tahun 14 = $1000

Maka nilai obligasi ini pada tanggal 1 Jan Tahun 14:

Bt = It+1/(1+r) + It+2/ (1+r)2 + It+3/(1+r)3 + … + It+n/(1+r)n +  F/(1+r)n

= $80/(1+0.06) + $80/(1+0.06)2 + $80/(1+0.06)3 + $80/(1+0.06)4 + $80/(1+0.06)5 + $1000/ (1+0.06)5

=          $75,471 + $71,199 + $67,169 + $63,367 + $59,781 + $747,258

=          $ 1.084,245

c. (-) (yang ini saya tidak mengerti pak caranya)

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Februari 18, 2011 in Analisis Laporan Keuangan (ALK)

 

Implikasi Etis dari Teknologi Informasi

1. Moral Etika dan Hukum Dalam Sistem Informasi

Moral               : Tradisi kepercayaan mengenai perilaku benar atau salah

Etika                : Satu set kepercayaan, standart atau pemikiran yang mengisi suatu  individu, kelompok dan masyarakat.

Hukum            : peraturan perilaku yang dipaksakan oleh otoritas berdaulat, seperti pemerintah pada rakyat atau warga negaranya.

Penggunaan komputer dalam bisnis diarahkan oleh nilai-nilai moral dan etika dari para manajer, spesialis informasi dan pemakai dan juga hukum yang berlaku. Hukum paling mudah diiterprestasikan karena berbentuk tertulis. Dilain pihak etika dan moral tidak didefinisikan secara persis dan tidak disepakati oleh semua anggota masyarakat.

2. Etika dan Jasa Informasi

Etika komputer adalah sebagai analisis mengenai sifat dan dampak sosial tekhnologi komputer, serta formulasi dan justifikasi kebijakan untuk menggunakan tekhnologi tsb secara etis. Manajer yang paling bertanggungjawab terhadap etika komputer adalah CIO (Chief Information Officer). Etika komputer terdiri dari dua aktivitas utama yaitu :

1. CIO harus waspada dan sadar bagaimana komputer mempengaruhi masyarakat.

2. CIO harus berbuat sesuatu dengan menformulasikan kebijakan – kebijakan yang memastikan bahwa teknologi tersebut secara tepat.

Kekuatan yg dimiliki CIO dalam menerapkan etika IT (Information Technology) pada perusahaannya dan jg masyarakat sangat dipengaruhi kesadaran hukum, budaya etika dan kode etik profesional oleh CIO itu sendiri.

Namun ada satu hal yang sangat penting bahwa bukan hanya CIO sendiri yang bertanggungjawab atas etika komputer. Para manajer puncak lain juga bertanggungjawab.

3. Implikasi Etis Teknologi Informasi

Penggunaan teknologi informasi akan berkaitan erat dengan moral, etika dan hukum. Moral merupakan tradisi kepercayaan mengenai prilaku yang benar dan salah dan berlaku secara universal. Sementara itu, etika adalah suatu kepercayaan, standar atau pemikiran yang mengisi suatu individu, kelompok atau masyarakat tertentu.

Etika dalam penggunaan komputer sedang mendapat perhatian yang lebih besar daripada sebelumnya. Masyarakat secara umum memberikan perhatian terutama karena kesadaran bahwa komputer dapat menganggu hak privasi individual. Dalam dunia bisnis salah satu alasan utama perhatian tsb adalah pembajakan perangkat alat lunak yang menggerogoti pendapatan penjual perangkat lunak hingga milyaran dolar setahun.

4. Alasan Pentingnya Etika Komputer

  • Logical Malleability (Kelenturan Logika)
  • Transformation Factor (Faktor Transformasi)

Invisiblity Factor (Fator tidak kasat mata)

Hak Sosial Dan Komputer

  • Hak Atas Komputer

Ø  Hak atas akses komputer

  • Hak atas keahlian komputer

Ø  Hak atas spesialis komputer

Ø  Hak atas pengambilan keputusan komputer

  • Hak atas Property
  • Hak atas Accuracy
  • Hak Atas Informasi

Dikenal dengan istilah PAPA (Privacy, Accuracy, Property, Accessibility)

  • Hak atas Privacy;
  • Hak atas Accessibility;
  • Hak akses informasi yang memang dipublikasikan, seperti berita-berita, hasil penelitian, dll.
 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada November 25, 2010 in SIM